Opini ( Duta Lampung Online)-Ini adalah artikel penulis untuk memupuk kesadaran sebagai yang mengaku waras , kita tayangkan opini ” 40 HARI DIRUMAH SAKIT JIWA ” Gondo Amino.
Katakan sebut Mr X itu Nama saya.
Sudah hampir 12 tahun ini saya menderita psikoprenia afektif dan ODGJ , namun sama keluarga tidak mendapat perhatian , tidak pernah di beri obat, namun karena kasih sayang dan pemeliharaan seseorang, saat ini saya stabil dan beraktivitas seperti orang normal biasanya.
Sebulan sekali saya kontrol berobat ke psikiater di RSUD. Ketika saya sadar dan waras terkadang saya mengingat kembali masa-masa paling berat dihidup saya yaitu masuk rumah sakit jiwa.
Sebelum saya masuk rumah sakit jiwa, saya sempat menjadi gelandang psikotik hampir seminggu dan saya di masukan ke rumah sakit jiwa oleh polisi dan petugas dinas sosial.
Saya ingin berbagi cerita dan kisah pengalaman saya selama menjadi ODS (Orang Dalam Skizofrenia) dan ketika menjadi ODGJ (Orang Dalam Gangguan Jiwa).
2017 saya bekerja di Tangerang Selatan di salah satu perusahaan di bidang IT, pengelola Website dan jaringan. Kurang lebih 1 bulan saya bekerja di perusahaan tersebut dan akhirnya dipulangkan kembali ke Riau karena saya Relaps (Kambuh).
Sebenarnya kerjaan tersebut adalah impian saya, dimana saya dapat uang makan mingguan, tempat tinggal sudah disewakan selama 6 bulan untuk saya, pada saat itu saya masih dalam masa training 3 bulan.
Apa penyebab saya Relaps karena depresi dan stress berlebihan akibat beberapa faktor, jadi disaat saya kerja saya mulai berhalusinasi dan delusi. Bibit-bibit SKIZO itu mulai muncul dan apapun yang saya lakukan di kantor sangat diluar nalar sehingga saya dipesankan tiket pesawat untuk dipulangkan ke Riau tempat orang tua saya.
Ketika di Bandara Soekarno-Hatta saya diantar oleh sopir dan buk yeni bagian staff SDM dari kantor saya, keanehan semakin menjadi-jadi ketika di Bandara, saya berjalan, berpindah-pindah tempat mengikuti bisikan-bisikan yang saya anggap nyata.
Saya gak bisa dilarang waktu saat itu, bahkan saya sempat melempar buk yeni dengan sepatu yang saya pakai,kesadaran saya pada saat itu hanya 50% , kadang sadar kadang enggak, sebelum check in di Bandara, saya berhalusinasi bahwa saya di pantau oleh mata-mata.
Hanya tas kecil yang didalam nya berisi al-quran, HP dan dompet, sedangkan baju-baju saya, saya tinggal kan di kontrakan, buk yeni sempat bertanya “enggak dikemas baju-bajunya, saya jawab ” Enggak kasih saja ke orang yang membutuhkan” Itu seingat saya.
Pasca pelemparan sepatu ke buk yeni, saya naik ke pesawat dan diruang tunggu dikawal oleh satu anggota TNI, entah dari mana datangnya anggota TNI tersebut, mungkin buk yeni yang minta tolong buat mengawasi saya.
Karena saya ngoceh-ngoceh tidak jelas, akhirnya saya naik pesawat dikawal TNI, sampai ke ruang kabin pesawat City Lin32*.
Jadi boarding dan hal-hal terkait penerbangan semuanya sudah diurus oleh anggota TNI tersebut, mungkin mereka semua sudah berkoordinasi bahwa saya ODGJ, makanya pramugari memantau saya dengan ketat sampai ke wc pun saya diikuti, padahal saya ke wc pesawat tidak buang hajat melainkan mengikuti halusinasi saya.
Setibanya di bandara Sultan Syarif Kasim II, makin menjadi-jadi halusinasi dan delusi saya, saya mutar-mutar gak jelas dan bersikap aneh di Bandara hingga akhirnya dishub bandara membawa saya dengan mobil ke tempat dimana saya tuju.
Dari Bandara udara Kualanamu aku pulang ke rumah orang tua saya berjarak 13 Jam, rumah ortu saya di Duri Riau. Saya diturunkan dishub disalah satu simpang dimana armada bus dan travel jurusan ke Duri berada.
Setelah berada di simpang Lima dan terminal bis tersebut saya mulai hilang kesadaran, berhari-hari lamanya, siang malam saya gak tidur, paling saya mulai sadar ketika saya lapar, saya berpindah-pindah tempat, mengoceh-ngoceh di tempat tempat keramaian tidak jelas dan ada moment dimana saya waktu itu hampir dihajar warga setempat karena keberadaan saya mencurigakan, penampilan rapi bawa tas kecil tapi diajak ngobrol, loncat sana loncat sini dan saya diintrogasi oleh warga setempat sehingga saya lupa dimana letak tas kecil saya, karena tas tersebut digeledah warga desa semua barang barang berharga dirampok , pohonnpohon ditebangi dengan biadab..semua diotaki ipar saya itu.
Kadang aku berpikir kenapa kalau diajak ngopi saya merasa rendah diri karena merasa teman pada ngerti topik bahasan, dan saya kayak ngk nyambung kalau diajak bicara, mereka selalu meroasting saya kayak kayak menyepelekan.. dan saya merasa berbeda dengan mereka.. bingung mau ngapain.
Makanya saya merasa nyaman kalaupun sendiri kadang merasa kesepian kalau tidak punya teman… Hanya di rumah, kerja dirumah, kerja.
ingin sekali aku punya teman yang cerdas dan pandai agar saya bisa menjadi kayak dia dan diajari serta mengerti dengan status saya.. dan menghargai saya karena saya butuh dihargai dengan pencapaian pencapaian bahkan yang sekecil apapun. Aku ingin menjadi cerdas biar dapat dihargai.
Ya sangat disayangkan penderita ODGJ yang sedang kambuh mestinya dimanfaatkan dengan mengambil barang-barang yang saya punya,semua warisan dari bapak saya dikibuli semua sama ibuk , ipar dan adik saya, hingga pil pil itu buat saya tidak ingat siapa yang mengambil karena saya diintrogasi warga, jadi yang tersisa hanya pakaian di badan, kerena ketika diintrogasi rasanya seperti diintimidasi seluruh keluarga membuat saya lari dari kerumunan warga yang berkumpul dekat saya.
Dengan nomaden selama 13 Tahun Tanpa identitas dan kesadaran sepenuhnya hilang saya jadi gelandangan psikotik dan sampai pada suatu titik dimana saya hanya pakai celana pendek dan baju robek, entah baju siapa yang saya pakai.
Saya hanya berada di dekat Indomar*x* untuk makan atau minum dari sisa-sisa orang yang duduk di Indomaxr*** tersebut, didepan Indomar*x** itu saya berorasi tidak jelas dan pada akhirnya saya mengganggu pengunjung dan dilaporkan pihak Indomarx** ke pihak berwajib.
Sebelum pihak berwajib datang seingat saya, saya berkelahi dengan dua orang pemuda yang merasa terganggu dengan keberadaan saya.
Namanya dalam keadaan Relaps kekuatan saya menjadi berlipat ganda dan akhirnya saya diikat kaki dan tangan saya sehingga saya tidak bergerak sampai polisi datang.
Menjadi tontonan warga dan masih ingat dibenak saya mereka mengatakan “orang gil* ngamuk” Gimana sudah gak ngamukan lagi ,saya lapar , barang-barang saya hilang ehh diusir oleh dua pemuda tersebut.
Seperti sapi yang ingin disembelih, saya diikat kaki dan tangan saya membuat saya menjadi trauma, saya diangkat warga dalam keadaaan terikat sebelum dimasukan ke mobil avanz merah * milik seorang polisi dan seorang ibu yang bertugas di dinas sosial.
Saya dilarikan ke ruang UGD RSJ amino Gondousodo Semarang ,saat itu benar-benar hilang kesadaran seratus persen, bahkan saya tidak tahu nama saya siapa, tinggal dimana dan yang saya ketahui asal waktu makan ketika rawat inap ada tulisan MR X Di tempat makanan saya.
(Editor : SHDt , Penulis : Unanime xx)



















