Aksi Polisi Main Hakim Sendiri, Tembak Pelaku Penyalahgunaan Narkoba

0
35

Kateman, ( Duta Lampung Online ) – Setelah sepekan masyarakat disuguhkan tontonan di TV tindakan brutal, anarkis polisi sorotan publik kasus Sambo belum selesai, kini ada lagi kasus penembakan.

Satu pria penyalahgunaan narkoba itu tidak melawan tangan di borgol lalu ditembak di hadapan istri korban. Tindakan tegas kecuali melakukan perlawanan saat akan ditangkap. Sedangkan ini tidak melawan ditembak ditepat menurut keterangan istri korban bernama Mismida.

Seorang pria dianggap pemakai narkoba Nazarudin (43 tahun) di tembak mati di rumahnya sendiri oleh oknum Polisi (Polsek Kateman) dalam keterangan istri korban selaku saksi langsung di TKP di Kelurahan Tagaraja Sungai Guntung, Kecamatan Kateman di Jalan Gang Tahu RT.08 RW. 01 saat di wawancarai oleh awak media pada Selasa, (16/8/2022).

Kronologis kejadian kepada awak media, “Demi keadilan bahwa pada hari Minggu 20.00 WIB posisi saya saat itu ada di dalam kamar dan posisi pintu kamar dalam terbuka dan saya mendengar suara pintu terbuka dan melihat beberapa orang menerobos masuk kedalaman rumah langsung ke belakang (dapur) tanpa permisi,” ucapan Mismida.

Dia juga menjelaskan bahwa yang masuk ke rumahnya berjumlah sekitar 3/4 orang dengan menggunakan pakaian preman, dua orang oknum polisi yang bertugas di Polsek Kateman dan salah satunya memegang 1 unit pistol dimana dia juga melihat saat itu posisi suaminya (Nazarudin) dalam keadaan tangan di borgol di belakang, dan dia juga mendengar suaminya meminta tolong untuk di lepaskan borgolnya dan menyerahkan diri tetapi dengan tega oknum polisi tersebut menempelkan pistol ke perut suami sebelah kiri dan menebak perutnya dalam posisi korban di borgol dan tidak ada perlawanan sama sekali. Dia juga menjelaskan bahwa yang datang semua ke rumahnya adalah anggota Polsek Kateman.

Mismida juga langsung berlari ke suaminya dan memeluknya dan menyapu kepala sampai ke kakinya kemudian dia pangku di pangkuannya dalam keadaan lemas dan posisi di borgol. Kepada warga dia juga menjelaskan para oknum polisi bukanya mengurus korban malah sibuk mengumpulkan barang bukti seperti gunting, narkoba, timbangan, dan alat isap dan tak menguasai keadaan.

Dimana istri korban meminta kepada para oknum polisi agar membuka borgol nya karena posisi korban dalam keadaan lemas dan tidak berdaya dan korban juga mau BAB ke wc tetapi oknum sama sekali tidak menghiraukan malah oknum sibuk bertanya mana lagi yang lain apakah ada di tempat yang lain.

Mereka menjawab tidak ada lagi, berapa kali istri korban meminta tolong buka borgolnya karna suaminya ingin pergi BAB baru di bukakan borgolnya dalam posisi borgol di buka sebelah kanan kemudian istri korban memangku suaminya sebelum dia membawa suaminya ke wc dia melihat salah satu oknum mengambil pisau di tempat penyimpanan pisau di dapur yang rapi tersimpan dalam keadaan tertancap di tempatnya.

Di mana istri korban tidak tau apa tujuan oknum mengambil pisau tersebut sama sekali dia tidak tahu yang jelas dia hanya melihat secara langsung oknum polisi mengambil pisau yang posisi di tempat dapur yang terletak di tempatnya dan oknum polisi tersebut mengatakan ini pisaunya.

Setelah 1 jam korban posisi di rumah atau di tempat kejadian peristiwa sebelum di bawa ke rumah sakit nanti istri korban memohon untuk bawa ke rumah sakit barulah korban di angkat ke depan itupun, korban di biarkan di tengah jalan aspal dalam posisi tergeletak oleh oknum polisi di mana sang istri marah kepada parah oknum polisi.

“Suami saya ini sekarang dan menghadapi nyawa kalian kok teganya ditaruh di sini? Ini manusia bukan binatang barulah di bawa ke rumah sakit,” ujar sang istri selaku saksi mata di TKP.

“Sejahat-jahatnya dan sesalah – salahnya suami saya apakah pantas di tembak di perut dalam posisi pistol nya di tempel di perut korban? Sedangkan teroris aja kejam tidak seperti itu cara membunuhnya dan itu sudah termasuk Hukum Rimba, negara kita kan negara hukum dan patuh aturan aturannya” tambah Mismida.

Dia juga meminta keadilan dan kebenaran merasa tidak senang dengan cara mereka datang tanpa permisi, tidak mengetuk pintu langsung menerobos, tidak melapor ke RT, RW, Kepala Desa, karena setelah kejadian Penembakan, semua barulah pak RT nya di panggil.

Setelah di rawat di rumah sakit sekitar jam ± 9/10 malam dan meninggalnya di jam 02.00 pagi. (*)(sHDt)