Ternyata Ketua Gapoktan Muhson Diduga ‘Maling Teriak Maling’

0
9

TANGGAMUS (Duta Lampung Online)– Berdasarkan hasil keterangan dari sejumlah aparat  dam masyarakat Pekon Marga Mulya, Kecamatan Kelumbayan Barat, Kabupaten Tanggamus, ternyata Ketua Gapoktan pekon setempat Muksono alias Mukson diduga maling teriak maling.

Pasalnya, setelah terungkap dugaan pemnggelapan dana bantuan Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP), Tahun 2014 senjumlah Rp100 juta, dan bantuan dana lumbung pangan senilai Rp60 juta, oknum tersebut mennyebar isu serta melancarkan aksi untuk menutupi kesalahan seolah-olah kepala pekon setempat yang korupsi.

“Memang Oknum Ketua Gapoktan Marga Mulya, Muksono diduga sangat piawai dalam mengelabui publik. Siapa yang tidak terkecoh dan tidak termakan oleh omongan dia,”Tegas Bendahara Kelompok Tani, Dusun Sidodadi 4, Pekon setempat, Jamil pada Selasa ( 10/9/2019).

Melalui pesan WhatsAp, Jamil juga menceritakan, Ketua Gapoktan Marga Mulya bukan hannya diduga korupsi dana PUAP dan dana bantuan lumbung pangan, Muksono juga diduga kuat telah menggelapkan satu unit handtrctor bantuan dari Presiden Jokowi.

“Sampai sekarang dengan alasan tidak jelas bantuan handtrctor  yang diterima oleh Gapoktan telah lennyap. Diduga telah dijual oleh Muksono,”imbuhnya.

Jamil mengaku, Oknum Ketua Gapoktan seolah-olah kebal hukum. Pasalnya meski sudah bannyak orang tau bahkan dari pihak dinas Muksono tidak diproses dan masih bebas berkeliaran serta melancarkan aksinya.

Terpisah, sejumlah masyarakat saat dikonfirmasi juga merasa bingung  dengan banyak nya jabatan yang di sandang oleh Muksono.

Selain sebagai Ketua Gapoktan, Ketua Kelompok, Bendahara Kelompok Kehutanan, Ketua HKm, Muksono juga menjabat sebagai Ketua KTNA.

“Namun meski banyak jabatan yang diembannya namun tidak satupun ada bukti nyata dari jabatan yang diembannya. Bahkan setiap ada bantuan tidak pernah ada musyawarah serta disosialisasikan kepada anggota kelompoknya. Sehingga bantuan-bantuan yang dikucurkan selama ini kami tidak pernah tau sumberdananya dari mana,”ungkap salah satu warga yang dikonfirmasi secara terpisah pada Selasa ( 10/9/2019).

Narasumber juga menceritakan, pekonnya pernah menerima bantuan sumur bor. Namun tanpa ada musyawarah bantuan sumur bor tersebut dibuat dilokasi pekaranagannya untuk kepentingan pribadi.

“Yang bersangkutan juga pernah dapat bantuan sumur bor yang di bangun di belakang rumah nya untuk di nikmati sendiri. Masih banyak bantuan yang terkesan dimanfaatkan kepentingan pribadi seperti mesin sedot air, mesin perontok padi/jagung yang sebagian masyarakat pernah melihat keberadaan barang tersebut yang sekarang entah kemana rimbanyapungkas Narasumber,”beber narasumber.

Seperti diberitakan sebelumnya, Oknum Ketua Gabungan Kelompok Tani ( Gapoktan), Pekon Marga Mulya Kecamatan Kelumbayan Barat, Kabupaten Tanggamus, Muksono, diduga kuat telah korupsi dana bantuan Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP), Tahun 2014 senjumlah Rp100 juta.

Terungkapnya kasus tersebut berawal dari pengakuan dari Kepala Pekon ( Kakon) Marga Mulya, kecamatan setempat, Muzani Akbar dan pamongnya serta masyarakat setempat pada Minggu (8/9/2019).

Kakan setempat, Muzani mengatakan Bantuan PUAP pada tahun 2014 senilai Rp100 juta diduga telah dikorupsi oleh oknum Ketua Gapoktan, Muksono. Bahkan kata Muzani oknum ketua Gapoktan pekon setempat sudah mengakui perbuatannya dihadapan masyarakat.

“Muksono sendiri sudah mengakui jika dana bantuan PUAP sudah habis olehnya. Dia minta dana bantuan tersebut diihlaskan jangan lagi dibahas,”ujar Kakon Muzani.

Selain itu, Muzani juga menceritakan jika oknum Ketua Gapoktan juga diduga kuat telah korupsi dana bantuan lumbung bangan pada Tahun 2019 sejumlah Rp60 juta.

Sebab masih kata dia dana tersebut telah habis dan tidak direalisasikan untuk pembelian gabah serta pengembangan ekionomi masyarakat setempat.

“Terkait dana bantuan lumbung pangan, Mukson juga mengakui jika dana tersebut telah habis dia pakai. Saat dilakukan rapat pekon muhson minta untuk bersabar dan berjanji akan memulangkan dana tersebut,”imbuhnya.

Dikonfirmasi secara terpisah, Sekretaris Pekon setempat, Nasirun juga membenarkan jika dana bantuan PUAB pekonnya telah pakai sendiri oleh oknum Ketua Gapoktan, Muhson. Sehingga masih kata Nasirun masyarakat tidak merasakan serta tidak bisa memanfaatkan bantuan tersebut buat modal usaha kelompok yang tergabung di Gapoktan.

“Benar pak dana tersebut sudah dihabiskan oleh oknum ketua gapoktan. Masyarakat bahkan tidak tau adanya bantuan tersebut,”tegas Nasirun.

Nasirun juga membenarkan jika dana bantuan lumbung pangan dari dinas pertanian telah habis dipakai oleh oknum ketua gapoktan. “Bahkan awalnya masyarakat kami tidak mengetahui jika ada bantuan tersebut,”ujarnya.

Dikonfirmasi secara terpisah, salah satu masyarakat pekon setempat mengaku diduga oknum ketua gapoktan bukan hannya korupsi bantuan pertanian. Dia menceritakan jika Muhson juga diduga melakukan pungutan liar ( Pungli) terhadap 1000 lebih anggota kelompok hutan register sejumlah Rp500 ribu/anggota, dengan dijanjikan akan mendapat kartu ijin penggarap.

“Hingga saat ini kartu tersebut tidak terealisasi. Caba bayangkan pak, jika Rp500 ribu dikalikan 1000 lebih anggota penggarap hutan register, nilainya mencapai ratusan juta. Bahkan sejak kasus ini mencuat Muhson jarang ada dirumah,”uajar narasumber pada Senin ( 9/9/2019).

Sementara itu, Ketua Gapoktan, Muhson saat akan dikonfirmasi melalui telpon genggamnya terkait masalah tersebut tidak aktif. (Red)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY