Story Of Kelapa Sawit Provinsi Lampung

0
35

Jakarta, (Duta Lampung Online)-Indonesia merupakan raja minyak sawit dunia dengan lebih dari 90 persen dari total luas lahan kelapa sawit tersebut tersebar di 190 kabupaten di Pulau Sumatera dan Pulau Kalimantan.

Berawal dari Sumatera Utara, perkebunan kelapa sawit mampu menarik daerah-daerah di sekitarnya untuk mengembangkan komoditas yang sama mengingat potensi dan keunggulan yang dimilikinya.

Provinsi Lampung merupakan salah satu daerah di Pulau Sumatera yang juga mengembangkan kelapa sawit sebagai pendorong pertumbuhan ekonominya.

Berdasarkan data Kementerian Pertanian, luas tutupan kelapa sawit Provinsi Lampung pada tahun 2019 yakni 268.061 hektare atau sekitar 1,64 persen dari total luas lahan sawit Indonesia.

Provinsi Lampung merupakan salah satu daerah di Indonesia dengan PDRB yang didominasi oleh pertanian termasuk kelapa sawit. Perkebunan kelapa sawit di Lampung sama halnya dengan perkebunan kelapa sawit di daerah lain yakni terdiri dari tiga bentuk pengusahaan yaitu Perkebunan Rakyat (PR), Perkebunan Besar Swasta (PBS), dan Perkebunan Besar Negara (PBN).

Berdasarkan ketiga jenis pengusahaan tersebut, luas area perkebunan kelapa sawit di Lampung sebagian besar dimiliki petani rakyat dengan proporsinya mencapai 54 persen, sedangkan PBS dan PBN masing-masing dengan proporsi 41 persen dan 5 persen. Total produksi minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) Provinsi Lampung pada tahun 2019 mencapai sekitar 508.772 ton.

Industri kelapa sawit yang mulai berkembang di Provinsi Lampung tersebar di empat daerah utama yakni Kabupaten Mesuji, Kabupaten Tulang Bawang, Kabupaten Lampung Tengah, dan Kabupaten Way Kanan.

Jumlah petani yang terlibat dalam industrialisasi perkebunan kelapa sawit di Lampung mencapai lebih dari 100.000 KK. Keberadaan perkebunan kelapa sawit di Lampung dapat menjadi motor penggerak pembangunan daerah-daerah pedesaan.

Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa hal perkebunan kelapa sawit di Lampung memiliki nilai multiplier yang lebih tinggi dibandingkan perkebunan lainnya untuk output, pendapatan rumah tangga, dan kesempatan kerja.

Meskipun demikian, masih terdapat permasalahan yang dihadapi petani rakyat di Lampung yakni produktivitas kebun kelapa sawit yang masih rendah yaitu sekitar 15 ton TBS/ha/tahun. Berdasarkan hasil identifikasi, rendahnya produktivitas sawit rakyat diakibatkan hanya sekitar 41 persen petani yang aktif melakukan pemupukan saat masa TBM (Tanaman Belum Menghasilkan).

Meskipun perkebunan kelapa sawit rakyat di Lampung masih terkendala produktivitas yang rendah, namun usahatani kelapa sawit rakyat masih dikategorikan layak untuk diusahakan petani.

Mengacu pada hasil Analisis Finansial yang dilakukan oleh Pujiharti dan Hafif (2016), perkebunan kelapa sawit rakyat di Lampung memiliki nilai B/C 3,98 dan Net Present Value (NPV) sebesar Rp21.299.697. Nilai B/C sebesar 3,98 berarti usahatani kebun kelapa sawit rakyat memberikan benefit sebesar Rp3.980.000 dari setiap Rp1.000.000 biaya yang dikeluarkan petani.(Rilis)