Sikapi Keluhan Warga, DPRD Bandar Lampung Panggil Pengembang Perumahan Citra Land

0
383
Foto Ilustrasi Perumahan Citra Land Lampung.
Bandarlampung (Duta Lampung Online)-Ketua Komisi III DPRD Kota Bandar Lampung Wahyu Lesmono berjanji segera menyikapi secara tegas adanya keluhan warga RT 05 Kelurahan Sumur Putri Kecamatan Teluk Betung Utara (TbU).
Hal itu terkait dampak lingkungan, berupa pencemaran air dan pendangkalan arus sungai di sekitar permukiman penduduk, akibat longsoran tanah, kerikil dan batu dari pembangunan perumahan milik Citra Land. Sikap tegas politisi PAN ini, disampaikannya ketika dirinya menerima laporan langsung dari Ormas Tampil di kantor DPRD Kota Bandar Lampung beberapa hari lalu.citraland
“Ya setelah tugas saya selesai, nanti saya akan memanggil pihak pengembang. Berkaitan dengan adanya laporan tentang keluhan warga itu,” ujar Wahyu Lesmono, kepada ketua umum Ormas Tampil Provinsi Lampung, Jimmi GR di damping wakil sekertarisnya Khairudin.
Dalam pemanggilan nantinya, papar Wahyu, sesuai dengan komisi yang dibidanginya, yaitu tentang pembangunan dan lingkungan, Komisi III DPRD Kota Bandar Lampung juga akan mempertanyakan kembali terkait izin pembangunan perumahan Citra Land itu.
Ditemui terpisah dikantronya, Jimmi GR, ketua umum Ormas Tampil Provinsi Lampung melalui wakil sekertarisnya Khairudin, mengatakan bahwa pihaknya telah menyampaikan laporan warga tentang adanya dampak lingkungan yang ditimbulkan dari pembangunan perumahan Citra Land, yang berada di sekitar aliran sungai, RT 05 Kelurahan Sumur Putri kepada ketua Komisi III DPRD Kota Bandar Lampung.
“Terkait dengan keluhan warga itu, sudah kami sampaikan dan kami laporkan ke ketua Komisi III DPRD Kota Bandar Lampung. Janjinya, komisi III yang membidangi masalah lingkungan dan mengenai izin akan segera menyikapi laporan tersebut,” ujar Khairudin kepada Bongkar Post, Kamis (15/12/2016).
Khairudin menegaskan, sesuai komitmen Ormas Tampil, dari awal setelah menerima laporan dari perwakilan warga beberapa waktu lalu, maka pihaknya juga akan mengawal sampai keluhan warga ini terpenuhi.
“Terlebih dampak sosial yang dirasakan warga. Seperti terjadinya pendangkalan sungai, sumur warga yang tak dapat lagi digunakan, hilangnya talud/bronjong pembatas badan sungai, akibat dipenuhi tumpukan tanah, kerikil dan pasir dari pembangunan perumahan Citra Land,” ujarnya.
Diberitakan sebelumnya, sedikitnya dua puluhan lebih warga RT O5 Kelurahan Sumur Putri Kecamatan Teluk Betung Utara memprotes dan meminta pertanggung tanggung jawaban atas pelaksanaan pembangunan sejumlah unit perumahan milik Citra Land di kawasan tersebut.
Pasalnya, sejak dilaksanakan pengerjaan pembangunan perumahan dari pihak devloper Citra Land, menyebakan sejumlah rumah terkena dampak longsoran tanah.Selain terancam banjir, warga di bataran aliran sungai setempat juga mengalami kesulitan untuk menggunakan air sumur, tempat mereka mandi dan mencuci, akibat  dipenuhi tanah, batu dan pasir yang terangkut air dari perumahan Citra Land.Menyikapi hal ini, lantas, wargapun mendatangi kantor ormas Tampil (Tim Andalan Masyarakat Pasukan Inti Lampung  dengan tujuan agar bisa membantu kesulitan warga.
 “Saya membawa aspirasi masyarakat. Dan menyampaikan keluhan secara tertulis dari 20-an warga lebih yang ada di seputar aliran sungai di RT 05 Kelurahan Sumur Putri, yang kemudian diteruskan kepada pihak terkait,” papar salah seorang perwakilan warga ketika menyerahkan pernyataan tertulis atas keberatan warga akibat dampak yang ditimbulkan oleh perumahan Citra Line, di kantor DPW ormas Tampil di Jl. AMD Kelurahan Bakung Bandarlampung, Senin (5/12)  lalu.
Pada kesempatan yang sama, ketua DPW Ormas Tampil, Jimmi GR di damping sekertarisnya Sartika, seusai menerima laporan tertulis warga RT 05 Kelurahan Sumur Putri mengaku, siap membantu dan menyampaikan keluhan warga.
“Prinsipnya kami siap membantu dan menyampaikan keluhan warga terkait adanya dampak yang ditimbulkan dari kegiatan pembangunan perumahan Citra Line itu,” ujar Jimmi.
Menurut dia, mengacu pada UUNo.26 tahun 2007 tentang penataan ruang terhadap penyesuaian ruang terbuka hijau (RTH) sudah sepantasnya pihak Citra Line, sebagai salah satu perusahaan bidang property terbesar di Bandar lampung mengedepankan sisi positif-nya kewarga.
“Jangan sampai ada yang dirugikan dari kegiatan tersebut. Apalagi sampai menimbulkan dampak sosial,” kata dia.
Selain akan melakukan peninjauan lokasi, lanjut Jimmi, pihaknya juga akan meminta pihak terkait untuk melakukan peninjauan ulang, atas izin rencana pembangunan perumahan itu.
“Baik izin UPL atau UKL-nya. Sebab, jika unsur ini belum terpenuhi maka kami menganggap bahwa ada “main’ antara deplover dengan dinas terkait,” tukasnya.
Sejalan dengan tuntutan warga, sambung Jimmi, pihaknya juga meminta pihak pengembang dan pihak terkait untuk mengkaji ulang atas kegiatan tersebut.
“Dan apabila diperlukan dilakukan penghentian sementara, sebelum keluhan warga ini dipenuhi. Akibat dampak yang ditimbulkan,” urainya.
Terpisah, melalui sambungan selulernya Yohadi, anggota Komisi III bidang pembangunan DPRD Kota Bandar Lampung mengaku prihatin atas apa yang disampaikan warga RT 05 Kelurahan Sumur Putri.Menurut dia, jika memang terdapat dampak dari kegiatan pembangunan perumahan milik Citra Line, maka yang harus dikaji adalah bagaimana soal perizinannya.
“Apakah telah memenuhi unsur atau belum. Sebab, setiap kegiatan yang berpotensi menimbulkan dampak lingkungan haruslah melalui proses.  Baik dari sisi pemanfaatan, dampak yang akan ditimbulkan, UPL-UKL, dan Amdal-nya. Terlebih, keterlibatan warga saat rencana awal pembangunan,” tukas politisi Golkar itu, dilansir dari Bongkar Post, Senin (5/12) lalu.
Sementara itu, berdasarkan hasil pemantauan dilapangan, Bongkar Post, mendapati sejumlah keluhan warga sekitar.
“Ya pak, kemaren waktu hujan deras airnya sampai mengenai dinding rumah. Selain rumah, sumur yang kami pakai buat mandi, minum, dan mencuci ikut terendam, akibat dipenuhi kerikil, pasir dan tanah dari perumahan Citra Line,” papar salah seorang warga yang meminta identitasnya tidak dikorankan.
Dikatakannya, sebelum ada pembangunan di atas lahan Citra Line, ketigian pondasi pembatas saluran air setinggi satu (1) meter. Tapi, setelah banjir sekarang pondasi itu tidak terlihat lagi, karena tertimbun longsoran, pungkasnya.(BP).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here