FAJAR adalah pendatang baru dalam ranah sastra Lampung. Tapi ia sudah pernah melahirkan satu novel sebelum ini, Janji di Tanah Petarung. Spesialisasinya memang roman, tapi ia amat dekat dengan puisi. Maka bahasanya cenderung puitis

Tak heran jika novel Maafkan Aku, Kuala Mesuji menjadi sesak makna. Fajar yang disebut Wakil Gubernur Bachtiar Basri sebagai mutiara dari Mesuji, mencurahkan semua kemampuannya dalam berkata-kata.

Percakapan antara tokoh satu dengan lainnya tak sekadar dialog. Namun lebih pada pergulatan batin Fajar dalam merekam kejadian-kejadian di sekitarnya.

Membaca novel ini memang seperti melihat langsung pengalaman hidup lelaki asal Buko Poso itu –yang kemudian ia satukan dengan kecintaannya pada literasi. Karenanya, menyelami Maafkan Aku, Kuala Mesuji seperti menjengguk isi hati Fajar.

Imajinasi personalnya –entah disadari atau tidak– tak mematikan kesadaran. Namun justru membangun perkawinan antara altruisme, nostalgia, dan elegi. Anasir-anasir yang lazim pada sebuah karya sastra.

Membuka bab yang ia sebut Eskalasi 1, pembaca akan dihadapkan pada puisi sastrawan Lampung Isbedy Stiawan ZS yang diambil dari antologi November Musim Dingin.

Di tangan-tangan ini
Yang lunglai
Masih terbaca
Riuh petaka

Fajar agaknya mencoba langsung menyentakkan perhatian pembaca. Pada stigma kehidupan yang meruyak dan tak mampu dilawan, bahkan oleh seorang Lin, tokoh utama dalam cerita ini.

Di sinilah altruisme Fajar terbaca. Ia menerang-jelaskan Lin adalah seorang pekerja seks komersial (PSK) yang eksodus dari eks lokalisasi Dolly, Surabaya.

Non-egois Fajar dapat dilihat pada ketidakmauannya menyalahkan perempuan itu, atas pilihan profesinya. Ia justru meng-altruisme-kan Lin sebagai seseorang yang pantasnya adalah guru. Sebagaimana penuturannya berikut ini:

Dengan wajah oval dan tutur kata sehalus kapas, perempuan 28 tahun berambut sebahu sejatinya tak pernah sepadan dengan profesi itu. Sebab andai ia terbiasa mengenakan long dress atau khalisa flowy hijau pupus, semua orang akan menduga wanita 175 cm bertatapan bening ini adalah guru aktivis di kawasan Register 45.

Pada eskalasi pertama ini Fajar memang membumbui dengan sumpah-serapah Lin pada suami yang menghianatinya. Tapi bukan kesan egoisme, yang muncul adalah pembelaan pada figur seorang perempuan yang menolak kesewenangan dan penindasan.

Baca juga pada Eskalasi 5 di halaman 41-42.

Mak Romlah mengangguk. Matanya terus terpaku menatapi raut bulat telur yang masih terbaring pucat. Rasa ibanya datang meluluhkan, mengalir bagai anak sungai dan terus mengalir tanpa jeda. Sambil merebahkan bahu yang mulai terasa lelah, dibelainya rambut perempuan itu dengan sentuhan selembut kapas. Dadanya bergetar.

Ya, Fajar dengan non-egoismenya sukses mengaduk perasaan pembaca. Bahwa, sosok Lin sesungguhnya adalah imajinasi personalnya tentang Kuala Mesuji, sejengkal surga di tanah Mesuji –yang menurut pandangannya dianggap sebelah mata.
***
Apa yang membedakan manusia dengan binatang? Kesadaran! Begitu filsuf Yunani Aristoteles pernah berujar. Tanpa pikirannya manusia tak lebih dari hewan. Tak mampu merekam kenangan pada masa silam alias nostalgia.
Dan, novel Maafkan Aku, Kuala Mesuji sebenarnya adalah nostalgia Fajar kala mengunjungi daerah konflik itu pada dua tahun lalu. Sebuah kenangan pahit yang meninggalkan jejak kelabu dalam hatinya.

Ingatannya tentang kondisi SD Swasta Kuala Sidang, menjadi kesakitan-kesakitan yang hendak ia tumpahkan dalam novel ini. Melalui pergumulan batin dengan kata-kata, amat terasa upaya Fajar merubah kondisi tersebut.

Pada Eksalasi 7, yang ia mulai dengan puisi sastrawan Lampung lainnya, Syaiful Irba Tanpaka, Fajar lalu memaksa semua nostalgianya terkumpul.

Kami terkepung sampai ke mimpi
Tak punya pilihan kecuali berhadapan
Maka sekarang kami peluru
Bacalah!

Puisi itu terasa pas dengan percakapan Mak Romlah dan Lin, yang sesungguhnya adalah gugatan atas maraknya otonomi daerah (otda). Fajar memunculkan paradoks bahwa otda memicu semangat pemekaran ratusan kabupaten/kota. Namun gelegarnya ternyata belum menyentuh keseluruhan.

Tak adil baginya saat melihat ketimpangan pendidikan di SD Swasta Kuala Sidang. Sebuah sekolah yang hanya memiliki dua lokal sehingga siswanya harus belajar bergantian dalam hitungan jam.

Ia mencoba mengugat tanpa praduga, sebuah ironi kehidupan yang mestinya diubah oleh siapapun. Bukan oleh bendera yang lusuh atau janji yang diwariskan. Tapi dengan kekuatan riak-riak di luasnya Kuala Mesuji.
***

Membaca novel ini pembaca juga akan menemukan elegi, yang kerap terdengar seperti rintihan Fajar. Seperti terdapat pada Eskalasi 20 halaman 179. Pada sebuah percakapan antara Lin dan muridnya, Agam.

”Maafkan kami. Bu Lin,” seperti cita-citanya ingin menjadi penyair sebab tak rela melihat Kuala dianaktirikan, Agam sangat mudah terbawa perasaan sendiri. Ia bukan saja berkata sambil menatapi Lin, tapi juga dengan hati penuh sesal.

Amatilah dialog-dialog dalam novel ini yang sesungguhnya adalah pergulatan batin Fajar dengan keinginannya merubah kondisi miris. Elegi yang mestinya meraung, ia rubah menjadi lirih-merintih. Meski tetap tajam mengiris kesadaran.

Kadang elegi itu juga ia ledakkan, sebagaimana terdapat pada puisi Agam (halaman 242).

Bangunlah! Bangunlah! Bangunlah!
Pecahkan seribu karang, gelegarkan gelora laut
Lalu tenggelamkan rumah-rumah kumuhmu!
Tenggelamkan sedalam samudera membatasinya!

Lalu kembali ia lirihkan, seumpama sayat sembilu.

Dan aku tak kuasa lagi menatap tangis Kuala
Tak kuasa berteduh pada ombaknya yang hitam
Sebab tenggelam sudah tiang-tiang gelam rumahku
Hingga aku harus berkata; maafkan aku, Kuala Mesuji!

Sungguh, maafkan aku…

Lihatlah betapa menariknya Fajar mengubah tempo elegi dengan apik. Kadang meninggi, lalu menghunjam. Menjadi sebuah harmonisasi yang asyik-merasuk dalam jiwa. Membangkitkan kesadaran tentang ironi dan paradoks kehidupan di Kuala Mesuji.
***

Pada bagian akhir catatan ini saya harus akui, Fajar dengan kekuatan kata-katanya mampu menyentuh segala aspek kehidupan di Kuala Mesuji. Mengajak semua pihak tanpa memaksa, mengecap pahit-getir di sejengkal surga itu.

Ia begitu benderang mengucapkan keyakinannya, sekecil apapun upaya cukup mampu mengubah keadaan di sana. Fajar telah mencontohkan, tinggal lagi maukah kita mengikutinya? Atau cukup berkata: Maafkan Aku, Kuala Mesuji. (*)


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *