MIRIS!! Nasib TKD Pesibar ditarik ulur

0
185

Pesisir Barat, (Duta Lampung Online)   — Ditengah panas terik nya matahari siang, senin10 mei 2021, puluhan orang tenaga kontrak daerah korban kezaliman para pejabat daerah pesibar, mengelar orasi di depan kantor Bupati pesisir barat. Meski sedang berpuasa tidak menyurutkan semangat mereka untuk menuntut keadilan di tegakan seadil adil nya.

Di negeri para saibatin dan ulama julukan untuk daerah pesisir barat, sungguh berbanding terbalik dengan cerminan sikap para pejabat nya dalam memperlakukan terhadap sesama manusia.

Betapa tidak, pengangkatan calon Tenaga kontrak Daerah di Duga ada unsur politik di dalam nya, disinyalir perekrutan hanyalah sebagai formalitas saja, namun sejati nya yang terjadi tidak transparan, dan terkesan yang penting ABS (asal bapak senang) begitulah bobrok nya pejabat BKD pesisir barat, karna sikap ABS tadi mereka mengesampingkan kan nilai rasa kemanusia’an dan keadilan.

Anggota DPRD Jelas sebagai perwakilan dari masyarakat, memang benar sudah mediasi ke pemerintah Daerah dan pejabat nya, oleh dewan agar para TKD yang terdampak dari keputusan yang tidak transparan itu, di kembalikan perpanjang lagi kontrak nya, namun hingga hari ini belum ada titik terang alias Belum ada Keputusan. untuk kali ini mohon di maklumi, Anggota DPRD Pesibar juga Manusia biasa, sehingga DPRD PESIBAR TAK BERTARING itu jelas adanya.

Namun perlu di ingat, Saudara dipilih oleh rakyat sejatinya juga bekerja untuk rakyat, kebijakan-kebijakan yang merugikan atau bahkan mencenderai nilai keadilan maka andalah garda terdepan membela dan menyuarakan, Karna Anda sebagai penyambung lidah Rakyat..

Seperti kutipan dalam penggalan lirik lagu nya iwan fals: “SAUDARA DIPILIH BUKAN DI LOTRE”!. Bersuaralah yang lantang Pak Dewan!!

“Mana hati mu,, ketika saudaramu penduduk aseli pesisir barat mengemis kebijakan ditanah kelahirannya sendiri, Tidakah tersentuh hatimu sebagai manusia, melihat kejanggalan dari polemik Nasib para TKD yang ingin ikut andil dalam pembangunan di daerah nya sendiri. Bukankah Pemimpin sejatinya adalah Pelayan, maka Layani lah dengan ikhlas dan seadil adilnya tanpa pandang bulu”.

Pada ahirnya wewenang dan juga keputusan terbaik sepenuh nya ada ditangan pemerintah daerah. Tetapi kisah dari tragedi sepihak ini tentu akan jadi cerita tersendiri di hati para pejuang keadilan.

Dalam hal ini izin kan saya mengutif kalimat dari tokoh buruh ” Kalau kita Diam Saja Melihat Ketidak Adilan terjadi didepan Mata Kita, Itu Tandanya Kita Bukan Manusia Lagi”. Sangaji.

“Semoga para pejabat daerah, di negeri para saibatin dan ulama ini, bisa lebih bijak lagi dalam mengambil setiap keputusan, dan yang paling penting bisa memanusiakan manusia”

(jokson).