Mengenang Pejuang dan Ulama Pringsewu KH Gholib

0
3199
Oleh : Arif Hidayattulloh, Kepala Biro Duta Lampung Online, Kabupaten Pringsewu.

KH Gholib adalah seorang ulama besar asal Pringsewu, Lampung, yang juga dikenal sebagai pejuang kemerdekaan. Keberaniannya menghadapi pasukan penjajah, membuat namanya amat terkenal di masa itu dan sangat ditakuti pihak musuh. Beliau merupakan komandan pasukan tentara Hizbullah yang gagah berani, berjuang melawan penjajahan Belanda maupun Jepang.

KH. Gholib dilahirkan pada tahun 1899 di Kampung Modjosantren, Krian, Jawa Timur. Ayahnya bernama K. Rohani bin Nursihan dan ibu Muksiti. Pada usia tujuh tahun, ibunya menyerahkan Gholib kepada Kiai Ali Modjosantren yang sangat masyhur di desanya untuk belajar ilmu agama.

Foto Sosok Tokoh - KH Gholib.
Foto Sosok Tokoh – KH Gholib.

KH. Gholib datang ke Lampung sekitar tahun 1927 yang saat itu usianya sekitar 45 tahun, usai menunaikan ibadah haji dari tanah suci melalui Singapura.Pejuang ini awalnya menumpang di rumah M. Anwar Sanprawiro di Pagelaran, tak lama kemudian beliau membeli tanah di desa Fajaresuk kecamatan Pringsewu, namun karena keberadaannya diusik Belanda, Beliau pindah kesebelah timur yaitu desa Bambu Seribu yang saat ini dikenal dengan Pringsewu.

Di atas sebidang tanah sebelah utara pasar Pringsewu inilah beliau membangun rumah dan membangun masjid pertama di Pringsewu tahun 1928, yang sampai sekarang masih ada dan dapat disaksikan masyarakat Pringsewu dengan nama masjid Jami KH. Ghalib. Selain itu jalan yang melintasi masjid tersebut juga oleh generasi berikutnya diberi nama jalan KH. Ghalib.

Semasa hidupnya KH. Gholib dikenal sebagai orang yang senang mengembara guna menuntut ilmu agama, selain mempelajari ilmu ubudiah, ilmu hikmah-pun dipelajarinya.

Pada masa penjajahan Jepang tahun 1942, KH. Gholib memimpin pasukannya mengusir Jepang dari tanah Bambu Seribu (sekarang Pringsewu). Karena kekhawatiran akan pengaruh KH. Gholib yang begitu kuat di masyarakat dan dianggap Jepang dapat mengancam kekuasaannya, oleh militer Jepang KH. Gholib ditangkap, walau tak lama kemudian kembali dibebaskan.

Dalam rangka mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang tidak mau diakui oleh Belanda, KH. Gholib membentuk pasukan jihad Sabilillah  yang diambil dari anak didiknya yang tergabung dalam Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang bertahan di Pringsewu sejak tanggal 1 Nopember 1945 sampai tanggal 7 Agustus 1946.

Saat agresi Belanda II tahun 1949 dan mendapat kabar Belanda akan mendarat di Lampung melalui pelabuhan Panjang tanggal 1 Januari 1949, Tentara Republik Indonesia (TRI) mengungsi kepedalaman Gedong Tataan, Kedondong, Gading Rejo, dan Pringsewu, saat itu dibentuk pemerintahan darurat, di Gadingrejo residennya Mr. Gele Harun sedangkan di Pringsewu basis TRI di pesantren KH. Gholib dengan tokoh-tokohnya Kapten Alamsyah dan Mayor Effendy sementara itu KH. Gholib ditetapkan sebagai pemimpin pasukan gerilya.

Belanda memasuki Pringsewu saat itu melalui Gedung Tataan dan langsung ke Pagelaran dan dari pesawat udaranya menghancurkan tempat-tempat persembunyian pejuang Hizbullah dan Sabilillah. Selama KH. Gholib belum tertangkap selama itu pula Belanda melakukan penghancuran dan pengrusakan terhadap apa yang dimiliki KH. Gholib seperti rumah, pabrik-pabrik dan pondok pesantren, bahkan orang-orang yang tidak mau memberitahukan keberadaan KH. Gholib dibunuh juga seperti Ustadz KH. M. Nuh.

KH. Gholib meninggal sebagai syuhada bangsa, berjuang demi kepentingan umat, membela agama, bangsa dan negara. Oleh karenanya pada tahun 1992 KH. Gholib mendapatkan penghargaan sebagai Pahlawan Lampung dengan wujud pencanangan Bambu Runcing yang diberikan oleh Gubernur Lampung Poedjono Pranyoto.(Arif H/Berbagai sumber)