“Menelisik Kehidupan Masyarakat Pedalaman”

0
0

AKU PERNAH menikmati beberapa malam di sana. Jauh dari keramaian dan jalanan aspal. Hanya rumah-rumah tertentu yang memiliki listrik, juga kamar mandi yang layak. Lokasinya persis di tengah perkebunan sawit dengan jalanan tanah merah yang jika hujan turun nyaris tidak bisa dilewati dan perlu dua hari untuk bisa menerobos masuk ke sebuah dusun tujuanku. Dua hari perjalanan yang kuhabiskan dengan sebuah mobil jeep merah tidak melulu selurus arah.

Malam pertama diperjalanan ada hal yang mengharuskanku bermalam di pos polisi hutan. Lalu saat melintasi jalanan tanah merah yang licin, mobil jeep merah itu seakan mau menyerah. Susah. Begitulah yang kupikirkan saat itu hanya untuk mencapai sebuah daerah kecil di sana. Bahkan sampai di sebuah rumah kerabat pun tidak lagi bisa aku rasakan keadaan yang layak. Untuk mandi saja aku harus berjalan hampir satu kilometer ke arah belakang rumah.

Sebuah sungai berarus sedang yang jernihlah satu-satunya tempat MCK yang layak untuk beberapa kepala keluarga yang keadaannya tidak seberuntung yang lain. Tidak nyaman! Harus berbaur dengan warga yang lain. Tapi aku terima saja kondisi saat itu dan aku yakin tidak semua orang bisa menikmati pengalaman seru seperti ini. Terkadang pulang dari mandi pun beberapa ekor kera liar menghadang untuk mengganggu. Bukan lagi hal aneh menurut warga dusun itu. Tapi buatku, disambut kera setelah mandi itu lebih dari hal tabu. Aku lagi lagi menilai tidak semua orang merasakannya dan aku beruntung pernah merasakannya langsung.

Lalu salah seorang kerabatku sempat membawaku ikut ke pasar dengan tumpangan motor tua bermerk honda yang didesign mirip motor trail. Ini keren. Seakan jiwa petualang kembali merasuk. Aku menamainya sebagai jalur tracking menuju pasar. Sepanjang perjalanan aku menemukan suatu sekolah yang kemungkinan hanya ada satu-satunya di dusun itu. Beratap seng serta bangunan tidak sebanding dengan sekolahku, SMTI. Listrik di sekolah itu pun rasanya adalah hal yang berharga. Dan yah, pasar pun tidak seperti pasar yang sering kujumpai pada umumnya. Tidak begitu banyak yang menjual bahan makanan mewah. Intinya hasil bumi khas dusun itu saja yang tetap menjadi ‘tokoh utama’ pasar. Namun di sinilah warga pedalaman Lampung mencari nafkah atau sekedar menukar mata uangnya dengan barang yang mereka butuhkan.

Inilah potret keadaan pedalaman Lampung yang benar-benar perlu perhatian. Perlu adanya pembangunan infrastruktur yang memadai serta pembangunan nilai pendidikan di sana rasanya jauh lebih penting. Mengingat sebagian warga dusun enggan menyekolahkan anaknya dengan alasan ‘jauh dari rumah’ belum lagi kalau hujan turun, jalanan pun tak layak di lewati.

Mesuji. Nama daerah yang orang enggan kunjungi dengan masalalu bentrok yang masih menghantui. Padahal jika ditelisik lebih lanjut lagi, daerah ini amat sangat memiliki masa depan yang cerah. Tapi sekali lagi itu semua tergantung dari bagaimana pemerintah setempat mengelolanya.

Hey, pemerintah Lampung (khususnya) ! Lihat ke sini 😀

(Ilustrasi cerita di Simpang Pematang Blok B-E, Mesuji *’06/’16)