Lamtim Pusat Pilot Project Pengolahan Rajungan

0
220
Sejumlah nelayan membongkar Rajungan hasil tangkapan di dermaga Karangsong, Indramayu, Jawa Barat, Minggu (18/5). Menurut nelayan permintaan ekspor Rajungan dari berbagai negara di Asia saat ini meningkat hingga 50 persen dan dijual seharga Rp. 90 ribu per kilogram. ANTARA FOTO/Dedhez Anggara/ss/pd/14.

LAMPUNG TIMUR, (Duta Lampung Online) – Kabupaten Lampung Timur (Lamtim) terpilih menjadi salah satu pilot project budi daya pengolahan potensi rajungan secara berkelanjutan.

Hal tersebut diungkapkan pada kegiatan sosialisasi dan diskusi inisiatif pengelolaan perikanan rajungan berkelanjutan di perairan timur Lampung oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di gedung tani, Desa Skadana Ilir, Kecamatan Sukadana, Jumat (22/7).

Sekretaris Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Lampung Azhwar Rodi, mengatakan bahwa setelah dilakukan penilaian di sepuluh provinsi Indonesia yang memiliki potensi hasil laut pada bulan April lalu oleh KKP, akhirnya terpilih tiga kabupaten di provinsi Lampung yang menjadi pilot project pengolahan potensi rajungan yakni Kabupaten Lampung Tengah (Lamteng), Tulangbawang, serta Lamtim.

“Memang yang menjadi pilot project di Provinsi Lampung ada tiga kabupaten, namun dipusatkan di kabupaten Lamtim, artinya seluruh kegiatan administrasi kepengurusan dipusatkan di Lamtim,” jelasnya, seperti dilansir Radarlampung.co.

Lanjutnya, kegiatan ini tidak lain untuk melakukan kajian dalam rangka meformulasikan konsep project bagaimana untuk mensukseskan program pengolahan rajungan secara berkelanjutan.

“Untuk arah pilot project belum bisa diperkirakan, namun yang jelas tidak jauh dari pembinaan dan pengawasan. Untuk pengawasan, sudah dijelaskan dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan (Permen KP) bahwa nelayan dilarang untuk menangkap rajungan yang ukurannya masih kecil, sehingga dapat menjaga habitat rajungan itu sendiri,” ujarnya.

Untuk harga pasar pun tidak luput dari pengawasan, sehingga nantinya dalam project ini akan digandeng Bappeda, Dinas Perdagangan untuk menjaga kestabilan harga rajungan.

Dirinya juga berharap, kajian ini dapat diselesaikan secara cepat, sehingga dapat dibreak dwon, untuk penganggarannya bisa dimasukan di APBD Perubahan 2016.

“Saya harap kajian ini dapat segera diselesaikan supaya penganggarannya dapat dimasukan dalam APBDP 2016, sehingga pilot project ini dapat segera terlaksana,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Lamtim Usman Effendi mengatakan bahwa terpilihnya Lamtim sebagai salah satu kabupaten pilot project oleh KKP, tentu menjadi tanggung jawab yang besar untuk mensukseskan program dari KKP.

Untuk itu dirinya berharap kepada seluruh nelayan dapat mengikuti pembinaan ini sebaik mungkin, sehingga menjadi contoh kabupaten/kota lainnya di seluruh indonesia, khususnya di provinsi Lampung. (rlc)