Ngerii…!! Kisah Kapolda Lampung Selama Tangani Beberapa Kasus Pembunuhan

0
873
Kapolda-Lapung IKE Edwin

BandarlampungKapolda Lampung Ike Edwin telah menangani banyak kasus pembunuhan. Dalam kondisi terancam, ia pun sudah pernah melepas tembakan.

Menjadi pertanyaan, apakah Ike selama bertugas sebagai polisi, terutama saat di lapangan, punya rasa takut? “Saya juga pernah mengalami takut,” katanya.

IKE Edwin pernah menjabat Komandan Anti Teror di Jakarta. Itu sekitar tahun 2000-an. Kala itu, aksi teror masih marak. Bom kerap meledak di beberapa tempat. Pernah di Bali. Juga pernah di Hotel JW Marriot Jakarta.

Maraknya teror bom membuat masyarakat ketakutan. Bahkan, polisi pun juga dilanda perasaan yang sama. Bagaimana tidak, orang tidak dikenal bisa saja menyimpan sesuatu di tong sampah sementara di dekatnya ada polisi yang berdiri. Ketika meledak, semua orang yang ada di lokasi itu bisa kena serpihan.

“Bisa saja, tanpa terdeteksi, orang menaruh bungkusan plastik di pintu Pasar Senen, padahal saat itu kita berjaga di sana, lalu tiba-tiba ‘dhuaaaar…’, mati kita semua,” kata Ike belum lama ini. Seperti dilansir Tribunlampung.co.id.

Ike sekarang ini sudah menjabat Kapolda Lampung. Selama menjadi Kasat Reskrim, tak ada kasus pembunuhan yang tidak berhasil diselesaikannya.

Prestasi itu mengantarnya menapak karier, hingga menjadi Kapolres Tanah Bumbu di Kalsel, Wadirreskrim Polda Metro Jaya, Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kapowiltabes Surabaya, sampai Wakapolda Sulselbar.

Ike mengakui, siapapun anggota polisi, pasti tetap punya rasa takut. Namun, kemampuan setiap orang berbeda-beda dalam mengatasi rasa takut itu. Pada umumnya polisi bisa mengatasi sehingga tidak berdampak pada sikap dan tindakan.

Saat maraknya teror bom, Ike juga terkadang disergap rasa takut. Kucing di plafon pun terkadang langsung diantisipasi. Orang yang gerak-geriknya mencurigakan langsung diwaspadai.

“Bukan paranoid, tetapi waspada. Karena waktu itu memang sedang marak teror bom, orang yang tak disangka-sangka bisa saja tiba-tiba meledakkan diri di samping kita,” ujarnya.

Kalau bepergian, Ike selalu mewanti-wanti sopirnya agar tidak meninggalkan mobil. Kalau dia menghadiri rapat, atau kunjungan ke mana saja, sopir harus tetap berada di dalam mobil atau di samping mobil. Harus fokus menjaga setiap bagian mobil.

Kenapa? “Kita ‘kan tahu dulu itu bagaimana, bisa saja ada orang menyelusup ke bawah mobil dan menyimpan alat peledak di dekat tangki bensin,” katanya.

“Apalagi, waktu itu saya ‘kan Komandan Anti Teror, pasti juga jadi incaran kelompok teroris,” tambahnya.

Jika ingin naik mobil, Ike selalu waspada. Sang sopir harus bisa meyakinkan dirinya bahwa tak sedetik pun ia lengah dan memastikan tak ada orang yang pernah mendekat.

Kewaspadaan yang sama masih berlanjut hingga dia pulang ke rumah. Kalau mau keluar, pintu dibuka pelan-pelan dulu. Ada nggak benda asing, termasuk bungkusan plastik.

Kalau mau tidur, Ike tidak tidur di kamar, melainkan di ruang tamu. Ia mengambil kasur dan diletakkan di balik kursi panjang. Pistol diletakkan di sampingnya.

Tidak satu pistol, terkadang dengan dua pistol. Atau, yang satunya senjata api laras panjang AK-47.

Pembantu tidur di sisi lain, dan sopir juga di sisi lain. Sedangkan kamar Ike dibiarkan kosong. Demikian juga kamar pembantu dan kamar sopir.

Kenapa tidak tidur di kamar? Karena secara logika, jika ada orang atau kelompok yang mengincar dirinya, maka yang menjadi target pertama adalah di mana dia tidur. Dan, kalau mereka merencanakan sesuatu, pasti akan dilakukan saat lengah, yakni pada jam tidur.

Pintu rumah pun selalu diberi penghalang. Jadi, kalau ada yang menyerbu masuk, pintu tidak langsung jebol. Dan, itu cukup memberi waktu untuk bereaksi dengan cepat.

Ike bersyukur, hingga kondisi sudah membaik seperti sekarang, dirinya masih dilindungi oleh Yang Maha Kuasa.

“Tak bisa dipungkiri, karena pekerjaan ini, mungkin ada orang yang pernah berniat tidak baik kepada saya. Tapi, saya selalu percaya bahwa Tuhan akan memberikan perlindungan. Bagaimana caranya? Lewat doa. Berszikir. Membaca ayat-ayat Alquran,” paparnya.

Kalau Tuhan menghendaki, ia memberi misal, sudah lama nama Ike Edwin akan tertulis di batu nisan. Beberapa kejadian menjadi contohnya. Seperti, ia pernah membuat Berita Acara Pemeriksaan (BAP) dalam kondisi yang sangat mencekam.

Di depannya duduk seorang pria yang diduga tidak sepenuhnya waras. Tangannya memegang celurit. Dan, saat pemberkasan itu, celurit sempat dikalungkan ke leher Ike.

“Waktu itu, kalau Tuhan menghendaki, sekali tarik saja celurit itu sudah memenggal leher saya. Tapi, syukur alhamdulillah, Tuhan masih melindungi. Sampai selesai BAP, celurit itu hanya dikalungkan ke leher,” kenangnya.

Ketika pria itu dimasukkan ke dalam sel, celurit ikut dibawanya. Suatu ketika, ia mengamuk dan berteriak-teriak. Tak dinyana, untuk mengatasinya, Ike dan beberapa anggota secara bersamaan masuk.

Akibatnya, pintu jebol dan mereka semua terjatuh. Pada saat yang sama, pria tadi mengayunkan celuritnya ke arah para polisi.

Dalam sepersekian detik, Ike langsung membuat keputusan untuk menarik pelatuk pistol. Rekannya sesama polisi juga bereaksi cepat dengan melepas tembakan.

“Tak bisa dibayangkan kalau waktu itu kami terlambat menangani, mungkin celurit itu sudah memakan korban,” ujarnya.

Meski pun Tuhan masih selalu melindungi, namun Ike juga mengingatkan, siapapun yang menjadi polisi, bahkan yang bukan polisi, hendaknya tidak sekali-sekali menyombongkan diri dengan melampaui kemampuannya sebagai manusia.

“Saya selalu katakan kepada anak buah. Duluan saya berkelahi dengan penjahat. Duluan kepala saya dibacok oleh penjahat. Duluan saya dilempar granat. Tapi, itu tidak berarti saya memiliki kelebihan di atas dari kelebihan-Nya. Saya pun manusia biasa dengan segala keterbatasan dan kekurangan,” katanya.(TL).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here