Kenapa Mesti Malu ?

0
124
Robinsyah-Jurnalis Tuba.

Oleh : Robinsah (Jurnalis),

Kenapa mesti malu? Kalaupun keluarga kita hanyalah buruh tani, tukang becak, tukang cuci-setrika? Tidak ada hinanya itu jenis pekerjaan. Pun kalau orang tua kita petugas cleaning service, pagi, siang, sore dia mengepel lantai toilet, sama sekali tidak ada hinanya dengan pekerjaan ini.

Yang malu itu, jika orang tua kita pejabat tinggi, bergaji besar, tapi bahkan sejak dari masuk pertama kali dulu di awal2 sudah nyogok, nyuap. Yang malu itu, jika keluarga kita jago sekali menilap uang rakyat, uang proyek masuk kantong, dijejalkan ke nafkah keluarga.

Kenapa mesti malu? Kalaupun keluarga kita kemana2 naik angkutan umum, bahkan jalan kaki. Di rumah harta paling berharga hanya kursi makan kayu. Piring-piring kaleng, baju itu-itu saja sudah kusam. Aduh, bahkan Nabi dulu bajunya begitu2 saja? Dan dia orang paling mulia sedunia.

Yang malu itu, jika keluarga kita mobilnya mewah, rumahnya megah, sofa, piring2 kinclong, tapi semua hasil dari maling. Seolah terhormat sekali bungkus luarnya, tapi sejatinya hasil mencuri. Inilah yang harusnya malu. Apalagi jika meringkuk di dalam penjara, dicaci orang sekampung, dilabeli si pencuri, inilah yang harus malu. Sudah hancur dunianya, jatuh miskin, tidak punya kehormatan pula.

Maka, sesederhana apapun keluarga kita, berlarianlah bebas dengan mimpi-mimpi, terus bekerja keras dan jujur. Sekolah sungguh2, belajar dengan tekun. Tidak ada kehinaan di sana. Besok lusa, kita akan merengkuh banyak pengalaman menakjubkan (*)