Cerita Dari Tepi Barat

0
542
Oleh: Uli Maa, Wartawati Duta Lampung

Pukul dua dinihari kuputuskan untuk memulai perjalanan yang berawal dari rumah seorang teman di Jalan Kulit, Kemiling Bandar Lampung. Aku menumpang mobil dengan design interior kulit berwarna orange menyala, seakan tidak mengijinkan penumpang di dalamnya untuk meredupkan pandangan mata. Segala persiapan seperti logistik dan outdoor gear lainnya telah aman dipacking dan tersusun rapih di bagasi mobil.

Akhirnya mobil benar-benar melaju pada medan jalanan yang masih terasa halus serta nyaman untuk dilewati, sampai pada akhirya di suatu pekon Kecamatan Semaka mendadak jalanan terjal membangunkan sebagian penumpang dengan guncangannya.

Beberapa meter menempuh jalanan terjal, tak lama mobil kijang innova yang kutumpangi berhenti di sebuah rest area Lintas Barat, yaitu Masjid Imaduddin di Pekon Way Kerap Kecamatan Semaka untuk sekedar rehat dan menjalankan ibadah sholat subuh. Menarik. Di lokasi rest area Lintas Barat ini aku menemui banyak hal tak terduga seperti sumber air masjid yang langsung dari mata air pegunungan, mengingat masjid ini letaknya persis di bawah Bukit Barisan Selatan.

Selain itu, Masjid Imaduddin dengan segala kesederhanaannya menyediakan kopi dan teh panas gratis yang bisa aku buat sendiri. Juga tersedia beberapa stop kontak yang bisa digunakan untuk mengisi baterai ponsel tanpa dipungut biaya. Setidaknya ini dapat menghemat biaya backpacker amatir bermodal pas-pasan sepertiku. Satu hal yang membuatku pasti akan mampir lagi adalah keramah-tamahan warga asli Pekon Way Kerap kepada setiap pengunjung masjid yang mungkin di daerah lainnya belum tentu kutemukan.

Aku kembali melanjutkan perjalan yang masih panjang ini sambil beberapa kali melirik semburat keemasan cahaya matahari di sisi kiri jalan yang seolah menyapaku. Kali ini jalanan tidak melulu mulus seperti yang sebelumnya.  Aku kala itu berhadapan dengan jalur lintasan yang cukup rawan. Jalur yang menanjak panjang berkelok-kelok dengan sisi jurang di sebelah kanan maupun kirinya, serta kontur jalan yang relatif tidak rata, berlubang, rusak, dan di beberapa titik  tidak ada pembatas jalan. Sesekali aku berpapasan dengan truk-truk besar seolah berjalan merangkak memperlambat laju kendaraannya dan berharap tidak terjadi selip maupun kendala lainnya.

Jalur ini orang menyebutnya sebagai Tanjakan Sedayu. Tidak jarang kendaraan terjun bebas ke dalam jurang demi melintasi jalanan ini. Minimnya penerangan pada jalur Tanjakan Sedayu seakan lebih mengingatkan lagi kepada pengemudi untuk meningkatkan kewaspadaannya. Meski demikian,  Tanjakan Sedayu masih punya pesona tersendiri. Gunung Tanggamus, laut, serta dataran rendah di bawahnya terlihat dari atas sini. Sungguh pemandangan yang hanya ada di Lintas Barat.

Sumatera dikenal dengan jalur lintasnya yang berada pada kawasan hutan konservasi Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), termasuk Lampung dan salah satunya adalah Lintas Barat. Jalur yang seakan membelah kebuasan hutan konservasi ini menarik sejuta hawa liar seorang penjelajah sepertiku. Mataku terbelalak lebar menyaksikan keanggunan pepohonan khas hutan belantara, serta hidungku tak henti-hentinya menghirup dalam-dalam aroma hutan yang sejuk ini. Subhanallah, indah tak terkira. Udara dingin yang masuk lewat jendela mobil menambah kenikmatan tersendiri. Beruntung aku menikmati dengan syahdu alam liar yang tidak semua orang bisa rasakan. Sayangnya fikiran liarku itu terganggu ketika ban mobil mendadak tersandung jalanan yang cacat.

Mobil terus melaju hingga membawaku pada sebuah daerah pinggiran Kabupaten Pesisir Barat. Bengkunat, merupakan kecamatan sekaligus pintu gerbang menuju sepotong surga yang tertinggal dengan segala aroma tenangnya yang jauh dari hingar bingar kehidupan kota. Pemandangan jalannya tidak jauh berbeda dari jalan-jalan yang lain. Hanya saja Bengkunat masih lebih sederhana. Sesekali aku melihat anak berseragam berjalan beriringan di tepian jalan. Kala itu hari Sabtu. Hari yang menurutku paling pas untuk bepergian dan hari terakhir untuk mereka yang masih sekolah. Aku masih melihat selintas senyum anak-anak itu, meski tinggal jauh dari keramaian kota setidaknya masih banyak dari mereka yang hidupnya bahagia tidak kekurangan.

Aku masih saja menyibukkan diri dengan pandangan mata yang tak hentinya menikmati setiap lukisan Tuhan. Di kepalaku saat itu hanya ada untaian kalimat klimaks yang entah seperti apa aku harus menjelaskannya. Yang pasti aku mengangumi karya Tuhanku, Allah. Sampai saat tulisan ini dibuat pun tidak banyak pilihan kata yang bisa menuturkan bagaimana keagungan ciptaan Tuhan itu.

Pukul sepuluh siang kira-kira aku sampai di suatu daerah yang cukup menarik. Ini lah yang mereka sebut dengan Kampung Bali. Pada sisi kiri jalannya terlihat hempasan ombak dan pasir pantai yang putih berkilau dari pantai-pantai yang aku tidak tahu namanya. Beberapa kali kutemui juga pura-pura anggun yang bertengger ditepian jalan. Berbeda dari sisi kiri, di sisi kanan jalan hanya nampak rumah warga dengan sanggah di pelataran rumahnya. Melintasi daerah ini aku kembali diingatkan dengan jalanan sepanjang Gilimanuk menuju Denpasar, Bali. Sisi sebelahnya merupakan pantai dan sebelahnya lagi rumah warga dengan sanggah di pelataran rumah. Rasanya ungkapan Bali-nya Lampung yang disematkan Pesisir Barat bukanlah hal yang berlebihan.

Lagi-lagi aku yang seantusias ini tidak mau ketinggalan moment. Kebiasaanku berkunjung ke tempat yang baru kudatangi adalah memotret setiap papan penunjuk jalan yang terlihat atau mencoret-coret pada buku catatan yang kemana pergi selalu kubawa (nyampe Bali juga loh :D) aku selalu mengabadikan setiap apa yang kulihat meski hanya dengan kamera ponselku saja. Aku hanya tidak ingin melupakan bentuk dan rupa lukisan Tuhan yang entah kapan bisa kulihat lagi.

Suara mesin yang masih halus terdengar, pertanda suasana dalam mobil yang hanya seorang aku dan Reza, Si Pengemudi yang masih terjaga. Setelah sebelumnya kami ber-9 beradu canda dan menghitung banyaknya jembatan, hal konyol yang kami lakukan demi menghilangkan kantuk. Mobil yang kutumpangi sempat mampir ke kawasan wisata Tanjung Setia. Tanjung Setia merupakan satu dari sekian destinasi wisata di Pesisir Barat, hanya saja Tanjung Setia keberadaannya lebih dicium wisatawan asing ketimbang pantai-pantai indah lainnya. Tanjung Setia menurtku nyaris seperti hamparan pantai di Kuta Bali yang sesekali terlihat turis berselancar dengan mahir. Lantas kembali aku lanjutkan perjalanan setelah menikmati perbekalan untuk mengisi perut ditemani dengan view pantai berlatarbelakang gunung serta suara ombak yang seakan mengajak untuk bermain itu.

***

Mobil terus melaju dengan kecepatan rata-rata 80 km/jam. Pukul 13.30 WIB kira-kira aku sampai di Krui, ibukota Pesisir Barat. Beginilah muka ibukota yang baru saja melewati proses pemekarannya. Tidak semegah ibukota di kabupaten lainnya,  juga sarana pra sarana yang sekilas terlihat masih seadanya memang masih mendominasi daerah ini. Krui, dengan segala kesederhanaan serta keramah-tamahan penduduk aslinya ternyata berambisi memajukan kawasan wisatanya. Begitulah beberapa kabar yang tersiar di media online Pesisir Barat.

Mobil masih terus melaju menyusuri jalan-jalan halus yang terbentang sebagai urat nadi kehidupan di sini. Mobil sempat berjalan lambat di sektor keramaian Krui, Pasar Krui mereka menyebutnya. Jejeran rumah adat dari kayu kecoklatan dan beratap seng yang masih khas kekunoannya membuatku kembali diingatkan pada salah satu daerah di Liwa, kota tetangganya. Lalu sawah serta perkampungan yang menghiasi setiap sisi jalanannya menambah keanggunan wajah ibukota Pesisir Barat yang nyaris sama indahnya dengan bentangan sawah yang ada di Way Tenong, Lampung Barat.

Lagi-lagi lamunanku mengangumi keindahan lukisan Tuhan kembali dirusak oleh ban mobil yang tersandung jalanan rusak. Astaga! Di depanku nampak sebuah reruntuhan tanah yang menutupi sebagian badan jalan masih berantakan. Longsor yang entah kapan itu masih menyisakan bekas meski alat berat telah diterjunkan untuk membantu membersihkan badan jalan. Sedikit ada kecemasan saat aku melintasi jalanan terjal dengan tebing-tebing di sisi kanannya yang rawan longsor. Sesekali mobilku mengalah berhenti untuk bergantian dengan truk besar melewati jalan sempit yang terkikis air hujan. Sayang, meski Krui menyimpan banyak keindahannya aku harus sedikit dikecewakan dengan jalan yang cukup membahayakan ini.

Seperti Tuhan tidak mengijinkanku bersedih hati. Lagi-lagi keindahan yang dipertontonkan laut Pesisir Barat kembali menggugah pikiran buasku tentang alam. Kakiku tidak mau diam ingin segera menginjak pasir pantai kehitaman yang terlihat, lalu mata yang tidak seperti biasanya terbelalak takjub dengan apa yang dilihat. Di mana lagi aku bisa menemukan surga seperti ini. Kau tahu, Pantai Parangtritis pun rasanya dapat dikalahkan dengan bentangan pasir kehitaman di Krui ini. Terlebih aku juga menjumpai batu karang dengan ukuran yang besar, serta deburan ombak seperti merayu ingin dibuatkan sajak yang benar saja membuatku terpukau.

Lantas aku berhenti di sebuah pelabuhan. Pelabuhan Tembakak namanya. Sesuai rencana aku akan menyebrang ke Pulau Pisang dengan jukung kecil yang sempat aku lihat dari kejauhan. Sayang, kedatanganku di pelabuhan terlambat. Jukung yang rencananya membawaku serta kedelapan temanku untuk menyebrangi laut menuju Pulau Pisang itu sudah beberapa menit yang lalu bertolak dari pelabuhan. Seorang penjaga pelabuhan dengan kaos oblong kecoklatannya itu sempat meredam kekecewaanku dengan mengatakan kalau akan ada jukung lagi pukul 3 sore. Akhirnya salah seorang temanku memutuskan untuk berbalik putar arah mencari lokasi dengan view terbaik sembari menunggu kedatangan jukung kedua.

Tidak jauh dari Tembakak, sebuah rumah papan bercat putih kapur seperti bersedia menampung mobil innova yang sekedar ingin mendinginkan mesinnya setelah menempuh perjalanan ratusan kilometer. Di belakang rumah itu dengan jelas aku melihat batu karang yang berdiri tegak seolah menjadi raja dari setiap telungkupan batu karang di sekitarnya. Di depan mata memandang sebuah pulau kecil dengan pasir berkilauan menambah kecantikan view yang sekarang sedang kunikmati.

Itulah Pulau Pisang yang menjadi tempat tujuan perjalananku kali ini. Ombak yang terdengar tenang, terkadang menerjang karang dengan ganasnya. Mirip ombak di Tanah Lot Bali yang garang, nyaris menggulung tas cangklong berisi kamera SLR beserta beberapa ponsel temanku. Di sisi kanannya terdapat dataran yang menjorok ke depan pantai, hampir mirip seperti batu karang yang juga menjorok di sisi kanan Tanah Lot Bali.

Aku menyibukan diri dengan mengabadikan setiap deburan ombak dengan kamera ponselku. Sambil aku nikmati dan pandangi lekat-lekat setiap lekuk bentuk lukisan Tuhan itu. Aku masih duduk dengan caraku menikmati alam. Kembali pikiran rumit tentang deskripsi ciptaan Tuhan bergejolak di otakku. Begitu agungnya ciptaan Tuhan hingga aku tak kuasa menorehkan tinta untuk menceritakan kepada mereka tentang bagaimana indahnya tempat ini.

Entah ada hal apa yang membuatku dan kedelapan temanku melupakan jam keberangkatan jukung di Tembakak. Seakan larut dalam deburan ombak serta suara semilir angin yang berhembus seperti membelaiku, aku yah.. sampai melupakan jam keberangkatan jukung.

***

Rundingan di dalam mobil barusan tidak pernah membuatku terfikir jika pada akhirnya Labuhan Jukung lah tempat kami bermalam. Mobil putih pembawa jiwa-jiwa pecinta alam itu sekaan melaju begitu saja dan mendadak menuju Labuhan Jukung. Aku sendiri tidak begitu mendengar banyak tentang Labuhan Jukung. Yang kutahu itu salah satu pantai yang ada di Krui. Tentang bagaimana keindahan Labuhan Jukung sama sekali aku tidak pernah tahu sebelumnya.

Setelah meminta ijin mendirikan tenda, aku beserta yang lainnya menyiapkan segala jenis outdoor gear lainya untuk bermalam di sini. Ada satu hal yang dapat kupetik dari sini yaitu, pada kenyataannya mendirikan tenda tidak semudah kelihatannya meski dengan bantuan enam orang sekalipun. Ini akibat saat aku mendaki gunung tidak pernah mendapat tugas mendirikan tenda. Selalu mendapat tugas masak dan packing saat hendak pulang.

Labuhan Jukung dengan pasir putihnya cukup indah dilihat. Berbeda dengan pantai-pantai di pesisir Pesawaran. Aku kembali menikmati alam yang telah tersedia dihadapanku ditemani suara lembut ombak dan angin serta lembayung yang semakin menjingga di pelataran pantainya. Labuhan Jukung berada pada puncak keindahannya saat sunset seperti ini. Kembali aku diingatkan dengan panorama sunset indah di Tanah Lot Bali. Mereka, bukan hanya aku pun nampaknya sangat antusias menikmati sunset Labuhan Jukung. Sementara saat malam tiba, aku menikmati alunan syahdu ombak dengan cahaya dari api unggun yang sengaja dibuat dekat kaki tenda merk pavillo milikku. Bukan lagi aroma alam yang sedari tadi mengganggu pikiranku, tapi aroma ikan tenggiri bakarlah yang mengakhiri  pikiran puitisku tentang alam.

Begitulah keindahan sederet surga di sepanjang Lintas Barat, khususnya kawasan Pesisir Barat. Mulai dari Tanjakan Sedayu, hutan konservasi, Kampung Bali, Tanjung Setia, sampai tempat terakhirku memutuskan bermalam, Labuhan Jukung. Dibalik kurangnya infrastruktur dan lambatnya pembangunan di sepanjang Lintas Barat, setidaknya mata ini pernah dimanjakan dengan sejuta pesonanya, hidung ini pun pernah mencium aroma kesyahduannya. Bukan hanya aku atau pun penduduk asli, tapi banyak wisatawan yang juga ikut merasakan keindahannya.

Tidak banyak yang bisa kuperbuat selain menulis sederet tulisan yang mungkin belum cukup mendeskripsikan bagaimana keindahan yang sesungguhnya itu. Meski jalur Lintas Barat tidak semulus serta senyaman yang ditawarkan jalur Lintas Sumatra, tapi Lintas Barat merupakan urat nadi segala kehidupan di Pesisir Barat dan sekitarnya. Lintas Barat lah jalur terdekat mencapai Krui serta jalur utama dalam memasok kebutuh apa saja ke wilayah sepanjang Pesisir Barat, Provinsi Bengkulu dan sekitarnya. Sudah semestinya semua ikut terjun dan tanggungjawab dalam memajukan potensi wisata yang ada. Dimulai dari pembangunan infrastruktur serta sarana pra sarana di sepanjang Lintas Barat.