10 Tahun Tergolek di Tempat Tidur, Ningsih “Buk Nunik Tolong Saya”

0
0

Lamtim (Duta Lampung Online)– Hampir 10 tahun Triwahyu Ningsih harus menghabiskan sisa hidupnya diatas tempat tidur. Perempuan tengah baya (33) warga Dusun 57 Polos, Desa Giri Kelopomulyo, Kecamatan Sekampung, Kabupaten Lampung Timur, itu tak bisa melakukan kegiatan apa pun menyusul kondisi fisiknya yang kaku akibat penyakit yang dideritanya.

10 tahun lalu Ningsih divonis dokter menderita penyakit rematik jantung. Karena keterbatasan biaya, pengobatan alternatif menjadi pilihan terakhir pengobatan Ningsih. Namun hingga hari ini, kondisi fisiknya belum juga sembuh. Kedua kaki, tangan dan tubuhnya tak bisa digerakkan. Diapun pasrah terkulai di tempat tidurnya.

Sebelum sakit-sakitan, Ningsih hidup rukun dirumah sendiri bersama suami dan kedua anaknya. Namun semenjak penyakit menggerogoti seluruh harapannya, Ningsih tinggal dan menetap bersama kedua orang tuanya di 57 Polos, Desa Giri Kelopomulyo, Kecamatan Sekampung, Kabupaten setempat.

Hasil pantauan kru Duta Lampung Online, Ningsih hanya mengandalkan kedua orang tuanya untuk merawat dan menghidupinya. Sementara orang tua laki-laki Ningsih, Muwardi 63 tahun sudah tua dan sering sakit-sakitan. Sedangkan Muhiroh, ibu kandung Ningsih hanya berjualan Mi Bakso tak jauh dari rumahnya di depan lapangan desa setempat.

“Awalnya sudah dirawat dirumah sakit sama suaminya, tapi setelah 20 hari dirawat gak ada tanda-tanda akan sembuh akhinya dibawa pulang. Namun waktu dibawa pulang tangan dan kakinya masih lemas, tapi lama-lama kaku tak bisa digerakan. Tapi alkhamdulillah, berkat dirukiyah keadaannya sudah agak lemas”, kata Muhiroh ibu Ningsih.

Dari informasi yang dihimpun, sejak sakit-sakitan Ningsih panggilan akrab Tri Ningsingsih memang tinggal bersama kedua orang tuanya. Namun, lantaran keterbatasan pengetahuan dan ekonomi, Ningsih tidak dirawat secara maksimal. Bahkan diberi kartu KIS pun mereka tidak sanggup berobat lantaran tidak ada uang untuk makan.

Tapi apa hendak dikata, bukan maksud kedua orang tua ini tidak mau membawa kerumah sakit sang buah hati. Mereka memang tidak mampu berbuat banyak karena masalah ekonomi. Pasangan yang dikarunia delapan anak ini hanyalah penjual mi bakso yang berpenghasilan minim dan tidak menentu.

Sementara kondisi fisik Ningsih memang sedikit ada perubahan, dari awalnya kaku disekujur tubuh, saat ini kedua kaki dan tangannya sudah mulai bisa digerakkan. Namun akan lebih baik jika ada yang peduli, baik dari lingkungan sekitar, pemerintah daerah maupun orang-orang yang ingin berbagi kepada mereka.(*)

Kedua orang tua Ningsih pun berharap anaknya lekas diberi kesembuhan. Dia juga berharap kepada Bupati Lampung Timur, Chusnunia Chalim, dan jajaran pemerintah daerah, agar memberikan bantuan terhadap keluarganya mengingat kondisi mereka saat ini sangat meprihatinkan.

“Semoga anak saya cepat sembuh dan pemerintah mau membantu kesusahan kami sekelurga, dan semoga Buk Nunik selaku Bupati kami, bisa mendengar keluhan kami dari temen-temen media”, harap Muhiroh.(herwantoni)