Selayang Pandang Tentang Kerajaan Sekala Brak Ranji Pasai

0
3

DIDALAM tambo tertuliskan bahwa ada satu komunitas adat yang mendiami sekala brak yaitu suku tumi dengan pusat pemerintahannya yang bernama Ranji Pasai di tanoh unggak sekala brak dengan rajanya bernama ratu sekekhumong yang merupakan cucu dari ratu sangkan dan anak dari ratu mucak bawok memiliki seorang putri bernama sindi yang menjadi istri dari umpu belunguh, pusat pemerintahannya dahulu kala ada di barnasi kenali kecamatan belalau saat ini.

Menurut catatan tambo dibelunguh, sekala brak itu sendiri artinya semacam tumbuhan puar lakok yang luas, buah dari puar lakok itu sendiri berguna untuk mengasamkan gulai atau makanan, tumbuhan sekala itu sendiri merupakan sebuah simbol yaitu apabila tanah itu diumbuhi oleh tumbuhan sekala (sejenis tumbuhan puar) berarti tanah itu subur dan makmur.

Dalam catatan juga dituliskan bahwa kerajaan sekala brak memiliki hulubalang yang kuat dan sakti sehingga para hulubalang dan keturunannya diberi penghargaan pusaka berupa pedang dan payan (tombak) dengan nama rumah mereka turun-temurun diberi nama gemuttukh dan gajah minga yang melekat hingga saat ini.

Masyarakat suku tumi dari kerajaan ranji pasai sekala brak memiliki aliran kepercayaan animisme yaitu percaya akan roh-roh leluhur, pada batu-batu dan pohon-pohon besar, masyarakat suku tumi menyembah sebatang pohon melasa (nangka) yang memiliki cabang sebukau, getah dari sebukau itu merupakan racun yang luar biasa namun racun tersebut dapat disembuhkan dengan getah dr pohon melasa itu sendiri, pohon inilah yang dizaman paksi pak di jadikan pepadun melasa kepampang, atau singgasana untuk melantik raja yang merupakan perpaduan dari pohon nangka bercabang sebukau.

Selain itu juga melasa kepampang merupakan pepadun pertama disekala brak yang juga berfungsi untuk mengislamkan masyarakat suku tumi yang menjadi tawanan pada saat perang sekala brak pertama.

Selain itu aturan/hukum adat yang diterapkan pada masyarakat suku tumi di kerajaan ranji pasai sekala brak sangat tertata sehingga menjadikan ketaatan hukum pada komunitas adat tersebut, dengan sanksi hukum yang paling berat adalah dipenggal kepala nya di atas sebuah batu yang bernama batu kepapang/kepampang, batu kepampang merupakan tempat yang sakral untuk melakukan penebusan kesalahan bagi masyarakat yang telah dijatuhi hukuman oleh raja.

Ratu sekekhumong merupakan raja terakhir yang memimpin kerajaan ranji pasai sekala brak setelah datangnya agama islam ditanah sekala brak yang dibawa oleh umpu dari pagaruyung yang disebut paksi pak.(*)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY